Hati yang DIpaksa Mati

 Hati yang Dipaksa Mati
by: R. A.

kau injak rantai yang menghalangi jalanku
kau hamparkan kertas sebagai alas dudukku
kau panggul tasku kemanapun saat kita berjalan berdampingan
kau lipat payungku tanpa aba-aba
kau, terlihat begitu peka dan penyabar
mengerti apa yang kumau
banyaknya tanpa harus kukatakan terlebih dahulu
dalam pandanganku, kau tak pernah tinggalkan sholatmu
tak izinkan sedikitpun aku membayar makananku
kau slalu mencoba memberi yang terbaik untukku
kau... sesempurna itu terlihat dimataku
Tapi ternyata, 
kau simpan penuh segudang bom waktu
yang bisa siap kapan saja meledak
lalu melukai siapapun yang berada terlalu dekat denganmu
termasuk aku
Iba. aku tak mampu melihatmu sesusah itu
tersayat dengan raut wajahmu yang linglung dan bingung
Namun sayangnya, jiwaku berbeda dengan yang lainnya
aku baru saja berhasil berenang kepermukaan,
setelah bersusah payah melawan arus yang kuat menghantam
hingga rasanya mustahil bagiku untuk membantu membawamu kembali kedaratan
yang karena jika aku kembali menyelam ke lautan dalam
aku harus terlebih dahulu melepas jeruji dikakimu yang tersangkut akibat ulahmu
Aku tentu sudah tak punya energi yang cukup
Aku khawatir tidak mampu menyelamatkanmu tepat waktu
Lantas, kaupun juga sibuk mengusirku 
sebab takut aku kehabisan nafas dan tenggelam bersamamu
Oleh karena itu, pada akhirnya
kita memutuskan untuk hanya mengucpkan doa keselamatan bagi masing-masing
dengan air mata yang bercampur dengan air laut yang asinnya serupa
Kita tahu dan paham
bahwa sejatinya, kita bukan saling meninggalkan
Tapi kita hanya saling menerima, 
bahwa realita ini lebih pahit dari obat apapun yang ada dimuka bumi ini
Bahwa, tak ada pilihan selain pergi ke arah tujuan yang berbeda
Saat kulambaikan tanganku padamu untuk pulang
sejuta tanya dan beban penuh dikepala
tapi kita seakan-akan mengisyaratkan kata-kata yang sama
Maaf, terima kasih dan selamat tinggal
Hatiku yang sempat patah lalu tumbuh karenamu,
kini harus dipaksa mati
Perihnya, kau lah yang sebenarnya terus berusaha memupuknya
tapi kau mungkin lupa
bahwa nyawamu...
ternyata telah dulu layu sebelum aku berbunga
Hingga bungaku ikut mati bersamamu
- # -
 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu

Atok

Doaku atau doa Ibuku ?